Tidak banyak yang tahu bahwa lagu 'Hymne
Guru' pada bait terakhirnya sudah berubah yaitu :
"Engkau patriot
pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa..."
kata-kata 'tanpa tanda jasa'
diganti menjadi 'pembangun insan cendekia'. Jadi bait terakhir tersebut
berbunyi :
"Engkau patriot
pahlawan bangsa...
Pembangun insan cendekia..."
Perubahan lirik
lagu Hymne Guru pada kalimat terakhir telah disepakati dan ditandatangani sejak
tahun 2007. Bukan tanpa alasan, hal itu memang benar. Dulu, guru dikatakan
tanpa tanda jasa karena terkesan bekerja tanpa pamrih. Hal ini seolah-olah
mengerdilkan profesi guru. Mengingat apresiasi terhadap guru pada jaman itu
tidak berbanding lurus dengan pengabdiannya dalam mewujudkan cita-cita
perjuangan nasional yakni mencerdaskan anak bangsa, terutama dalam hal
kesejahteraannya. Tidak heran pula jika guru mendapat julukan 'Oemar Bakri'
yang lahir dari keresahan penyanyi Iwan Fals akan mirisnya nasib guru jaman
dulu.
Saya masih
teringat awal-awal perjuangan saya menjadi guru tahun 2005 silam. Gaji bersih yang
diterima sudah dipotong pajak, dipotong asuransi kesehatan, dipotong
iuran-iuran organisasi guru dan organisasi pegawai. Itupun sudah termasuk
tunjangan fungsional dan tunjangan beras. Ada pula insentif dari pihak sekolah
yang diberikan setiap tiga bulan karena waktu itu masih ada iuran komite yang
dibayarkan oleh siswa.
Tahun 2009 hingga
kini nasib guru baik dalam hal kesejahteraan dan pengembangan keprofesian sudah
semakin diperhatikan dan difasilitasi dengan sangat baik oleh pemerintah maupun
lembaga swasta yang berkecimpung di bidang pendidikan. Dengan adanya
sertifikasi guru, guru jaman now bisa menikmati tambahan
penghasilan berupa tunjangan profesi yang setara dengan satu kali gaji pokok.
Ditambah lagi dengan adanya tunjangan lauk pauk, tunjangan penghasilan pegawai,
tunjangan kinerja, kemudian saat hari raya ada lagi tunjangan hari raya. Nah,
terakhir ada gaji 13 yang bisa digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak.
Hingga detik ini, menjadi guru adalah passion
saya. Hasrat yang telah saya jalani hampir 18 tahun. Walaupun mungkin idealisme
masa muda sudah terkubur dan tertimbun rapat jauh di palung terdalam kalbu,
namun jalan hidup saya sebagai guru masih memiliki nafas. Nafas itulah yang
menggerakkan jiwa-jiwa yang punya impian besar.
Di awal tahun ajaran dan masa belajar
efektif, saya tidak punya banyak waktu luang. Masuk jam 7.15 dan pulang jam 3
sore. Mengajar non stop ditambah ekstrakurikuler selepas jam mengajar, yang
saya butuhkan adalah waktu. Waktu untuk sekedar mengelap keringat. Waktu untuk
sekedar menyapa keluarga saya. Waktu untuk sekedar menghela nafas saat proses
belajar tidak sesuai dengan perencanaan, bahkan kadang berakhir dengan tidak
terduga. Tapi...pada saat yang tepat, semua akan terbayar di akhir semester.
Saat anak-anak libur, harapan saya guru juga libur.
Bagi sebagian orang yg tidak memahami apa
dan bagaimana pekerjaan guru di kelas formal, maka tentu akan berkomentar gini,
"Yah itu kan udah resiko tugasnya kan. Lagian dapat gaji dan tunjangan."
Atau ada lagi yang bilang, "Makanya guru harus kreatif dong supaya
muridnya senang dan berprestasi."
Sebenarnya tidak
sesederhana itu. Beban kerja 24 jam mengajar per minggu itu sebenarnya boleh
dibilang gampang-gampang susah. Hitung-hitungan kasarnya begini. Tiap mata
pelajaran paling sedikit memiliki 2 kredit atau setara dengan 2 jam pelajaran.
Jadi beban kerja 24 jam itu dibagi 2 kredit berarti 12 kelas. Seorang guru
rata-rata #wajib mengajar 12 kelas. Jumlah siswa di masing-masing kelas kurang
lebih 30 siswa per kelas. Nah, 30 siswa dikali 12 berarti 360 siswa per minggu.
Setiap guru harus menghadapi minimal 200
sampai 300 siswa per minggu. 200 siswa per minggu ! Siswa itu manusia. Mereka
punya jiwa. Mereka unik. Masing-masing siswa itu punya kepribadian, karakter
serta latar belakang pendidikan, ekonomi dan keluarga yang berbeda-beda. Setiap
guru, mau tidak mau harus 'mengintervensi' kehidupan personal siswanya satu
demi satu. Dan yang dilakukan guru bukan hanya mendidik tetapi juga mengisi
jiwa mereka. Membakar semangat mereka. Membesarkan impian mereka. Ini pun bukan
hanya terjadi di kelas. Tetapi sampai di lingkungan luar sekolah.
Di tahun ke 18
saya mengajar, dengan perhatian dari seluruh stake holder pendidikan
yang begitu besar terhadap nasib guru, ada satu hal yang patut saya banggakan.
Hal yang menjadi kemewahan yang tidak mampu terbeli oleh gaji dan tunjangan
apapun. Kekayaan yang hanya bisa dipamerkan oleh seorang guru.
Harta yang tak
ternilai itu adalah anak-anak didik saya. Anak-anak didik adalah benih yang
diamanahkan oleh Yang Maha Kuasa kepada orangtuanya dan dititipkan kepada guru.
Seiring waktu, mereka menunjukkan kematangan dan kedewasaan untuk menghadapi
kehidupan. Mereka menciptakan ruang dan waktu mereka sendiri dengan takaran
sukses yang mereka berani tentukan sendiri. Mereka adalah benih insan-insan
cendekia. Mereka adalah anak-anak saya.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei
2022