Sunday, October 9, 2022

Jam Terakhir Pukul Satu

Saat mengajar jam terakhir di kelas, yang mulai sekitar jam satu siang dan berakhir jam tiga. Di dalam kelas tidak ada kipas angin, tidak ada AC. Panas. Gerah.

Ada satu anak yang masih berdiri. Sepertinya dialah yang paling banyak aktifitas tambahannya : jalan-jalan, teriak-teriak tidak jelas, tarik-tarik kursi. Tapi belum duduk.

Anak lelaki itu posturnya tinggi, berkulit gelap. Geraknya lincah kesana kemari. Agak kurang bersih. Kemeja yang dipakainya, jahitannya terbuka.

Dia rela gerah memakai baju kaus di dalam kemejanya mungkin utk menutupi kemeja yang robek.

Entahlah.

Ada beberapa anak di kelas saya yang seperti itu. Dari delapan kelas yang saya ajar tahun ini, dari sekitar 280an siswa, ada sedikitnya 2 atau 3 siswa yang kemeja, celana, atau rok nya menurutku sudah kurang layak mereka pakai. Mungkin karena sudah kelas 12, tahun terakhir sekolah. Mungkin sayang kalau beli baru, toh tinggal 4 atau 5 bulan lagi sudah tidak dipakai lagi.

Sekarang mungkin saya mulai memikirkannya.

Saya punya anak perempuan hampir seusia siswa-siswa yang saya ajar. Anakku bahkan bersekolah di tempat saya mengajar. Saya pun pernah mengajar di kelasnya selama setahun.

Tadi pagi sempat lihat anakku pakai kemeja putih dan rok abu-abu. Kerudung dengan lambang sekolah. Bawa ransel, bawa laptop, bawa alat sholat, bawa bekal. Seperti mau mudik.

Andai ada satu hal yang terlupa dibawa, pasti karena saya lupa teriak-teriak tadi pagi,

“Put, air minum,”

“Put, kaos kaki panjang,”

“Put, kunci kelas,”

“Put….”

Selepas istirahat pertama di sekolah, ada beberapa siswa minta ijin melayat. Ibu teman kelasnya meninggal dunia.

Saya nangis. Teringat ibuku. Ibuku masih sehat, di usianya ke-71. Tidak terbayang dukanya di usia remaja tidak punya ibu. Tidak ada yang teriak-teriak,

“Bawa air minum,”

“Pakai kaos kaki panjang,”

“Jilbabnya belum rapi,”

“…”

Entahlah. Sekarang saya mulai memikirkannya.

Anak laki-laki yang jahitan bajunya lepas, apa dia masih punya ibu?  Apa ibunya tidak teriak-teriak,

“Bawa air minum,”

“Pakai kaos kaki bersih,”

“…”

Entahlah.

Sunday, May 1, 2022

Guru Pembangun Insan Cendekia

 Tidak banyak yang tahu bahwa lagu 'Hymne Guru' pada bait terakhirnya sudah berubah yaitu :

"Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa..."

kata-kata 'tanpa tanda jasa' diganti menjadi 'pembangun insan cendekia'. Jadi bait terakhir tersebut berbunyi :

"Engkau patriot pahlawan bangsa...
Pembangun insan cendekia..."

Perubahan lirik lagu Hymne Guru pada kalimat terakhir telah disepakati dan ditandatangani sejak tahun 2007. Bukan tanpa alasan, hal itu memang benar. Dulu, guru dikatakan tanpa tanda jasa karena terkesan bekerja tanpa pamrih. Hal ini seolah-olah mengerdilkan profesi guru. Mengingat apresiasi terhadap guru pada jaman itu tidak berbanding lurus dengan pengabdiannya dalam mewujudkan cita-cita perjuangan nasional yakni mencerdaskan anak bangsa, terutama dalam hal kesejahteraannya. Tidak heran pula jika guru mendapat julukan 'Oemar Bakri' yang lahir dari keresahan penyanyi Iwan Fals akan mirisnya nasib guru jaman dulu.

Saya masih teringat awal-awal perjuangan saya menjadi guru tahun 2005 silam. Gaji bersih yang diterima sudah dipotong pajak, dipotong asuransi kesehatan, dipotong iuran-iuran organisasi guru dan organisasi pegawai. Itupun sudah termasuk tunjangan fungsional dan tunjangan beras. Ada pula insentif dari pihak sekolah yang diberikan setiap tiga bulan karena waktu itu masih ada iuran komite yang dibayarkan oleh siswa.

Tahun 2009 hingga kini nasib guru baik dalam hal kesejahteraan dan pengembangan keprofesian sudah semakin diperhatikan dan difasilitasi dengan sangat baik oleh pemerintah maupun lembaga swasta yang berkecimpung di bidang pendidikan. Dengan adanya sertifikasi guru, guru jaman now bisa menikmati tambahan penghasilan berupa tunjangan profesi yang setara dengan satu kali gaji pokok. Ditambah lagi dengan adanya tunjangan lauk pauk, tunjangan penghasilan pegawai, tunjangan kinerja, kemudian saat hari raya ada lagi tunjangan hari raya. Nah, terakhir ada gaji 13 yang bisa digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak.

Hingga detik ini, menjadi guru adalah passion saya. Hasrat yang telah saya jalani hampir 18 tahun. Walaupun mungkin idealisme masa muda sudah terkubur dan tertimbun rapat jauh di palung terdalam kalbu, namun jalan hidup saya sebagai guru masih memiliki nafas. Nafas itulah yang menggerakkan jiwa-jiwa yang punya impian besar.

 

Di awal tahun ajaran dan masa belajar efektif, saya tidak punya banyak waktu luang. Masuk jam 7.15 dan pulang jam 3 sore. Mengajar non stop ditambah ekstrakurikuler selepas jam mengajar, yang saya butuhkan adalah waktu. Waktu untuk sekedar mengelap keringat. Waktu untuk sekedar menyapa keluarga saya. Waktu untuk sekedar menghela nafas saat proses belajar tidak sesuai dengan perencanaan, bahkan kadang berakhir dengan tidak terduga. Tapi...pada saat yang tepat, semua akan terbayar di akhir semester. Saat anak-anak libur, harapan saya guru juga libur.

Bagi sebagian orang yg tidak memahami apa dan bagaimana pekerjaan guru di kelas formal, maka tentu akan berkomentar gini, "Yah itu kan udah resiko tugasnya kan. Lagian dapat gaji dan tunjangan." Atau ada lagi yang bilang, "Makanya guru harus kreatif dong supaya muridnya senang dan berprestasi."

Sebenarnya tidak sesederhana itu. Beban kerja 24 jam mengajar per minggu itu sebenarnya boleh dibilang gampang-gampang susah. Hitung-hitungan kasarnya begini. Tiap mata pelajaran paling sedikit memiliki 2 kredit atau setara dengan 2 jam pelajaran. Jadi beban kerja 24 jam itu dibagi 2 kredit berarti 12 kelas. Seorang guru rata-rata #wajib mengajar 12 kelas. Jumlah siswa di masing-masing kelas kurang lebih 30 siswa per kelas. Nah, 30 siswa dikali 12 berarti 360 siswa per minggu.

Setiap guru harus menghadapi minimal 200 sampai 300 siswa per minggu. 200 siswa per minggu ! Siswa itu manusia. Mereka punya jiwa. Mereka unik. Masing-masing siswa itu punya kepribadian, karakter serta latar belakang pendidikan, ekonomi dan keluarga yang berbeda-beda. Setiap guru, mau tidak mau harus 'mengintervensi' kehidupan personal siswanya satu demi satu. Dan yang dilakukan guru bukan hanya mendidik tetapi juga mengisi jiwa mereka. Membakar semangat mereka. Membesarkan impian mereka. Ini pun bukan hanya terjadi di kelas. Tetapi sampai di lingkungan luar sekolah.

Di tahun ke 18 saya mengajar, dengan perhatian dari seluruh stake holder pendidikan yang begitu besar terhadap nasib guru, ada satu hal yang patut saya banggakan. Hal yang menjadi kemewahan yang tidak mampu terbeli oleh gaji dan tunjangan apapun. Kekayaan yang hanya bisa dipamerkan oleh seorang guru.

Harta yang tak ternilai itu adalah anak-anak didik saya. Anak-anak didik adalah benih yang diamanahkan oleh Yang Maha Kuasa kepada orangtuanya dan dititipkan kepada guru. Seiring waktu, mereka menunjukkan kematangan dan kedewasaan untuk menghadapi kehidupan. Mereka menciptakan ruang dan waktu mereka sendiri dengan takaran sukses yang mereka berani tentukan sendiri. Mereka adalah benih insan-insan cendekia. Mereka adalah anak-anak saya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2022

Monday, November 9, 2020

Contoh Surat Permohonan Keterangan Bebas Temuan

  Assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh...


Kali ini, saya akan membagikan pengalaman yang telah saya lalui tiga tahun terakhir ini ketika saya pindah instansi dari Dinas Pendidikan Provinsi ke Kementerian Agama yakni berupa contoh Surat Permohonan Keterangan Bebas Temuan yang ditujukan kepada Kepala Inspektorat Provinsi.

Nah, silakan klik link Contoh Surat Permohonan Keterangan Bebas Temuan untuk mendownload contoh surat permohonan pindah instansi dalam bentuk file doc.

Contoh Surat Permohonan Keterangan Bebas Temuan

Semoga bermanfaat. Wassalam.

Contoh Surat Permohonan Pindah Instansi Tingkat Kota/Kabupaten

 Assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh...


Mengawali pagi ini, saya akan membagikan pengalaman yang telah saya lalui tiga tahun terakhir ini ketika saya pindah instansi dari Dinas Pendidikan Provinsi ke Kementerian Agama yakni berupa contoh surat permohonan pindah instansi yang ditujukan ke Kepala Kantor Kementerian Agama Kota/Kabupaten.

Nah, silakan klik link Contoh Surat permohonan Pindah Instansi Tingkat Kota/Kabupaten  untuk mendownload contoh surat permohonan pindah instansi dalam bentuk file doc.

Contoh Surat Permohonan Pindah Instansi Tingkat Kota Kabupaten

Semoga bermanfaat. Wassalam.

Thursday, September 12, 2019

Cuma Manusia Biasa

Sepulang dari sekolah selepas mengajar sore itu, saya langsung menelepon Ibu untuk bilang,

"Bu, maaf sudah kecewakan Ibu." Itu saja. Ibu tidak menyahut. 

Hari Sabtu itu cukup melelahkan. Saya mulai masuk kelas jam 7.15 di kelas X. Bangku di kelas belum sepenuhnya terisi. Masih ada saja satu dua siswa yang terlambat. Alasannya macam-macam. Terlambat bangun adalah alasan yang paling klise. Rencana untuk ulangan harian tertunda beberapa menit. Sambil menunggu seluruh siswa di kelas itu hadir semua. 


Satu setengah jam berlalu, saya lanjut mengajar di kelas XII. Ruang kelasnya jauh di belakang. Dekat pagar batas sekolah. Melewati beberapa unit ruang kelas, lapangan basket, kantor, laboratorium, ruang guru dan jembatan kecil untuk sampai ke sana dari ruang kelas yang pertama tadi. Saya sudah merasa seperti Dora the Explorer pagi itu. 


Kelas XII aman sampai jam istirahat. Satu setengah jam yang kedua terlewati. Istirahat 15 menit cukuplah untuk meluruskan punggung sebentar sambil menikmati ubi goreng bersama dua kawan sejawatku di perpustakaan sekolah.  Hilanglah penat saat itu hingga bel masuk kelas berikutnya berbunyi.


Jam 10.30 kelas terakhirku Sabtu itu. Agak panjang durasinya hingga jam 13.10 dijeda istirahat sholat Dhuhur. Entah kenapa, di kelas itu saya merasa kesal dengan ulah seorang anak. Kelas terakhir ini juga jadwalnya ujian, dan si anak ini sebut saja namanya Dudung berkali-kali berbohong. Semua hal yang saya tanyakan dijawabnya bohong dan saya tahu dia bohong. Dan parahnya lagi, dia juga tahu kalau saya tahu dia bohong. 


Saya marah. Saya kesal. Saya merasa dipermainkan. Saya ucapkan kata-kata dengan nada yang keras yang tidak sepatutnya didengar oleh anak-anak saya. Saya marahi dia. Saya banding-bandingkan dia dengan anak lain. Saya cela dia. Saya sudutkan dia. Saya tunjuk-tunjuk dia. Di depan kawan-kawan sekelasnya. Belum puas sampai disitu, saya laporkan ke wali kelasnya.


Saya berjalan ke arah pintu kelas dengan dada yang sesak dan jantung berdegup kencang. Angin kering meniup pepohonan di jalan setapak sepanjang lapangan depan kelas. Semilirnya teduh membuat dedaunan berguguran. Ranting-ranting dan cabang-cabang kecilnya meliuk-liuk.  Ranting-ranting kecilnya yang rapuh, patah berjatuhan di tanah kering.


Ranting patah itu saya pungut. Boleh jadi ia patah karena angin terlalu kencang meniupnya. Tiba-tiba saya teringat anak semata wayangku Mahesa yang saat itu juga pasti masih berada di sekolah. Bagaimana kalau ia berbuat kesalahan di sekolah. Bagaimana jika ia dimarahi gurunya. Bagaimana kalau ia dicela karena kesalahannya itu. Bagaimana jika ia disudutkan di depan teman-temannya. Bagaimana kalau... ah... Semestaku.


Saya gagal sabar. Saya gagal menjadi seperti dewa. Semestinya saya tidak perlu marah sehebat itu. Seharusnya saya yang notabene adalah manusia yang paling dewasa, paling matang, paling stabil tingkat emosinya di ruang kelas itu harus lebih bisa mengendalikan perasaan.  Si Dudung adalah semesta bagi kedua orang tuanya. Dan saya hanya menghukum diri sendiri dengan marah karena kesalahannya.


Dua hari kemudian saya harus mengajar di kelas yang sama. Di kelas yang ada si Dudung. Dan pagi itu Ibu telepon. Saya menduga Ibu akan bilang satu kata, Sabar. Namun pagi itu Ibu bilang begini,
"Jangan lupa sarapan. Kamu harus kuat. Kamu cuma manusia biasa. Bisa sakit. Ibu tidak mau kamu sakit."


Saya harus kuat. Manusia yang kuat tidak mudah marah. Marah bisa membuat sakit, patah dan jatuh berguguran. Kalimat Ibu menegaskan langkah saya pagi itu. Ibu yang menjadikan anaknya semesta. Walaupun saya cuma manusia biasa.

Wednesday, August 7, 2019

Saya Mendengarnya

Enggan bertutur sapa. Kadang diam saat ditanya. Suaranya pun pelan saat keadaan memaksa. Namanya Harsal. Salah satu muridku di kelas 12.

Harsal suka duduk sendiri. Di bangku paling belakang. Dekat tembok.

Dia hampir tidak pernah absen. Selalu hadir. Walau tanpa kontribusi berarti. Datang. Duduk. Diam.

Tulisannya sukar dibaca. Saya sering tidak memberikan skor untuk tugas-tugasnya di kelas. Hanya kasih paraf dan tanggal. Karena saya tidak bisa membaca apa yang dia tulis.

Pernah sekali Harsal tidak hadir. Tidak ada yang tahu apakah dia sakit atau ijin. Saat ditanya, semua teman kelasnya menjawab tidak tahu. Dan saya hanya menuliskan tanda 'titik' di daftar hadir. Bukan 'alfa' atau 'ijin' ataupun 'sakit'.

Setiap tahun pelajaran baru, selalu ada paling tidak satu siswa seperti Harsal. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, saya tetap berada di situ. Berada di kelas dimana Harsal berada. Kelas dimana Harsal-Harsal lain juga berada. Mengajar. Menjalin hubungan guru-murid.

Di awal tahun mengajar saya, mungkin saat masih setahun dua tahun mengajar, saya masih pilih-pilih untuk suka atau tidak suka berada bersama murid seperti Harsal. Murid yang diam. Hampa. Hanya fisiknya saja yang berada di kelas. Jiwanya jauh melanglang buana.

Bahkan terkadang, saya akan mengabaikan kehadirannya. Sudah cukup bagi saya dia mengangkat tangan saat namanya disebut. Bukan hanya saya. Namun teman sejawat lain pun, akan melakukan hal yang sama terhadap Harsal.

Tahun-tahun berlalu. Bersama Harsal lain di kelas saya. Harsal yang diam. Yang duduk di belakang. Dekat tembok. Saya berdiri di dekatnya saat memanggil namanya. Dan dia pun menyahut, "Hadir, Bu," sambil berbisik.

Hari-hari berikutnya, saya dekati dia. Saya bicara. Dia bicara. Saya senyum. Dia juga senyum. Saya bertanya. Dia menjawab. Berbisik. Tak didengar teman-temannya. Tapi saya dengar. Dan dia cuma butuh itu. Saya dengar.

Ini tahun ketiga Harsal di kelas saya. Atau barangkali bisa dibilang saya di kelas Harsal. Saya masih tidak menghitung skor tugas-tugasnya. Saya cuma kasih paraf dan tanggal. Dia tidak pernah bolos. Tidak pula terlambat. Menjawab "Hadir" saat namanya saya panggil. Walau hanya berbisik.

Tahun ini adalah tahun ke 14 saya mengajar. Butuh belasan tahun saya belajar dari seorang Harsal. Belajar banyak hal berharga tentang amanah seorang guru.

Harsal tidak banyak bicara. Namun ia berhasil mengomunikasikan harapannya dan impiannya kepada saya. Gurunya. Bahwa dia adalah murid yang paling membutuhkan perhatian yang sangat besar. Lebih besar daripada murid-murid lainnya. Perhatian yang sejatinya diberikan kepada Harsal-Harsal yang ada di tiap tahun pelajaran. Perhatian yang seharusnya ditujukan kepada murid yang paling lemah. Paling diam. Yang hanya memilih tembok belakang kelas sebagai tempat bersandar.

Berada di kelas dimana Harsal berada bukan lagi menjadi pilihan. Bukan persoalan suka atau tidak suka. Berada di kelas Harsal adalah karunia. Belajar darinya. Bahwa hal terpenting dalam mengajar bukan hanya tentang transfer ilmu, ketercapaian indikator bahkan penguasaan kompetensi saja. Bukan itu. Namun yang sangat berharga adalah ikatan guru-murid yang terjalin saat salah satu atau keduanya memiliki kendala berkomunikasi.

Harsal akan menghadapi ujian akhir tahun ini. Mungkin dia tidak membutuhkan skor tinggi di kertas hasil ujiannya. Dia mungkin tetap memilih duduk di bangku belakang saat ujian. Dekat tembok. Dan kali ini dia akan menjawab "Hadir, Bu," saat namanya saya panggil. Masih tetap berbisik.

Dan saya mendengarnya.

Thursday, October 11, 2018

Beautiful Soul

He had a beautiful soul. A seven-year-old golden boy. He was very enthusiastic, full of energy. Some moments I can recall about him was when he's brought to our computer lab. I remember he asked me, "Did you hear that, aunty?"
"Hear what?" I said.
"Did you hear me calling for adzan?" He said.
"No, could you repeat that?" I asked him.
"Sure, but don't look at me," he said with his cheerful smiling face.
I didn't hear his voice. I heard an angel's voice that shiny afternoon.

Heaven waits for you dear boy. You're an angel himself, waiting for Mommy and Daddy...

In beautiful memory of Fahri
A son, a little friend, an angel...

Jam Terakhir Pukul Satu