Tadi pagi tetangga sekaligus teman sejawat ngajar baru saja balik dari kampung halamannya. Saya pun kebagian oleh-oleh mangga masak dan buah tarra'-buah khas daerah luwu. Rasanya mirip cempedak atau sejenis nangka hanya saja daging buahnya kecil-kecil.
Buah mangganya besar-besar dan manis sekali. Pokoknya sekali kupas langsung sikat habis deh.. :)
Cerita tentang mangga nih, saya jadi teringat saat masih tinggal di kota kelahiran saya Ujungpandang, sekarang menjadi Makassar.
Di rumah Ibu saya di Makassar dulu banyak pohonan di halaman depan, samping dan belakang rumah. Pohon yang paling gede itulah pohon mangga yang tumbuh di halaman depan rumah.
Menurut cerita Ibu saya, duluuuuu sekali waktu tanah tempat tinggal Ibu itu mau dijual, itu tidak beserta pohonannya. Jadi, karena Bapak saya cuma pegawai biasa -waktu itu Bapak di kerja di PLN saat masih Perum-, maka yang kebeli baru tanahnya aja. Semua pohon yang ada di atas tanah itu masih sah menjadi hak milik tuan tanah.
Nah, setaun dua taun berlalu, pohon-pohon itu berbuah banyaaaak banget. Ada berbagai jenis mangga, jambu, serikaya, jeruk, sampai belimbing, pisang, langsat dan rambutan.
Pada saat panen begitu, datanglah si pemilik tanah yang tanahnya udah dibeli sama orangtua saya. Mereka datang berbondong-bondong mulai dari kakek-nenek, bapak-ibu, anak-anaknya, cucu sampai cicitnya pada datang untuk : P A N E N.
Waduh, kakak-kakak saya waktu itu masih kecil, langsung ternganga dan ketawa meringis. Yang membersihkan dedaunannya siapa? Yang mengurus dan menyiram tiap hari siapa? Kok langsung dihabisin gitu? Padahal orangtua saya kan udah jadi pemilik yang sah tanah itu.
Maklumlah, jaman dulu pemikiran orang kuno memang pinter-pinter jadi harus diakali juga tuh.
Akhirnya Bapak setelah megumpulkan sedikit uang yang kiranya cukup buat membayari semua pohonan itu, bertemu dengan tuan tanah untuk menebus semua pohon-pohon itu.
Singkat cerita, akhirnya terbeli lah hampir semua pohon di halaman rumah kami. Ingat: HAMPIR. Nggak semua.
Hebat bener politik si tuan tanah. Katanya nggak mau jual pohon pisangnya. Biar jadi bekal anak cucunya. Enak buangets! Pisang kan boleh dibilang tanaman abadi. Ditebang satu, tumbuh lagi satu... nggak habis-habis deh.
Hebat si tuan tanah, tapi Bapak punya pemikiran lebih hebat pula. Bapak bilang ke tuan tanah kalau nggak mau dijual, pohon pisangnya silakan dicabut aja lalu dipindahkan ke tempat lain yang bukan halaman kami.
Akhirnya si tuan tanah itu menyadari bahwa memang tidak benar hal yang dia lakukan akhirnya mengalah. Katanya dia butuh duit jadi Bapak disuruh bayar lebih. Dan Bapak pun setuju agar tidak lagi menjadi konflik dengan generasi berikutnya.
Nggak sampai disitu, tuan tanah itu ternyata nggak berterus terang pada anak-anak, cucu dan cicitnya bahwa pohon-pohon itu sudah dibeli oleh Bapak.
Jadi pada musim panen berikutnya, mereka datang lagi. Berbondong-bondong lagi. Bawa karung dan semua peralatan untuk panen.
Ibu sama Bapak kaget dong. Kakak-kakak saya juga kaget banget. Gimana kok mereka masih meng-klaim bahwa pohon-pohon itu milik mereka.
Namun, akhirnya Bapak menjelaskan hal yang sebenarnya dan mereka masih diperbolehkan mengambil hasil pohonan itu, secukupnya. Sebab itu bukan kepunyaan mereka lagi.
Tahun-tahun berikutnya, beberapa diantara keluarga tuan tanah itu datang pada musim panen. Tapi bukan untuk memanen lagi. Yaaah, sekedar minta aja.. Tapi tetap bawa karung!