Thursday, September 12, 2019
Cuma Manusia Biasa
Wednesday, August 7, 2019
Saya Mendengarnya
Enggan bertutur sapa. Kadang diam saat ditanya. Suaranya pun pelan saat keadaan memaksa. Namanya Harsal. Salah satu muridku di kelas 12.
Harsal suka duduk sendiri. Di bangku paling belakang. Dekat tembok.
Dia hampir tidak pernah absen. Selalu hadir. Walau tanpa kontribusi berarti. Datang. Duduk. Diam.
Tulisannya sukar dibaca. Saya sering tidak memberikan skor untuk tugas-tugasnya di kelas. Hanya kasih paraf dan tanggal. Karena saya tidak bisa membaca apa yang dia tulis.
Pernah sekali Harsal tidak hadir. Tidak ada yang tahu apakah dia sakit atau ijin. Saat ditanya, semua teman kelasnya menjawab tidak tahu. Dan saya hanya menuliskan tanda 'titik' di daftar hadir. Bukan 'alfa' atau 'ijin' ataupun 'sakit'.
Setiap tahun pelajaran baru, selalu ada paling tidak satu siswa seperti Harsal. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, saya tetap berada di situ. Berada di kelas dimana Harsal berada. Kelas dimana Harsal-Harsal lain juga berada. Mengajar. Menjalin hubungan guru-murid.
Di awal tahun mengajar saya, mungkin saat masih setahun dua tahun mengajar, saya masih pilih-pilih untuk suka atau tidak suka berada bersama murid seperti Harsal. Murid yang diam. Hampa. Hanya fisiknya saja yang berada di kelas. Jiwanya jauh melanglang buana.
Bahkan terkadang, saya akan mengabaikan kehadirannya. Sudah cukup bagi saya dia mengangkat tangan saat namanya disebut. Bukan hanya saya. Namun teman sejawat lain pun, akan melakukan hal yang sama terhadap Harsal.
Tahun-tahun berlalu. Bersama Harsal lain di kelas saya. Harsal yang diam. Yang duduk di belakang. Dekat tembok. Saya berdiri di dekatnya saat memanggil namanya. Dan dia pun menyahut, "Hadir, Bu," sambil berbisik.
Hari-hari berikutnya, saya dekati dia. Saya bicara. Dia bicara. Saya senyum. Dia juga senyum. Saya bertanya. Dia menjawab. Berbisik. Tak didengar teman-temannya. Tapi saya dengar. Dan dia cuma butuh itu. Saya dengar.
Ini tahun ketiga Harsal di kelas saya. Atau barangkali bisa dibilang saya di kelas Harsal. Saya masih tidak menghitung skor tugas-tugasnya. Saya cuma kasih paraf dan tanggal. Dia tidak pernah bolos. Tidak pula terlambat. Menjawab "Hadir" saat namanya saya panggil. Walau hanya berbisik.
Tahun ini adalah tahun ke 14 saya mengajar. Butuh belasan tahun saya belajar dari seorang Harsal. Belajar banyak hal berharga tentang amanah seorang guru.
Harsal tidak banyak bicara. Namun ia berhasil mengomunikasikan harapannya dan impiannya kepada saya. Gurunya. Bahwa dia adalah murid yang paling membutuhkan perhatian yang sangat besar. Lebih besar daripada murid-murid lainnya. Perhatian yang sejatinya diberikan kepada Harsal-Harsal yang ada di tiap tahun pelajaran. Perhatian yang seharusnya ditujukan kepada murid yang paling lemah. Paling diam. Yang hanya memilih tembok belakang kelas sebagai tempat bersandar.
Berada di kelas dimana Harsal berada bukan lagi menjadi pilihan. Bukan persoalan suka atau tidak suka. Berada di kelas Harsal adalah karunia. Belajar darinya. Bahwa hal terpenting dalam mengajar bukan hanya tentang transfer ilmu, ketercapaian indikator bahkan penguasaan kompetensi saja. Bukan itu. Namun yang sangat berharga adalah ikatan guru-murid yang terjalin saat salah satu atau keduanya memiliki kendala berkomunikasi.
Harsal akan menghadapi ujian akhir tahun ini. Mungkin dia tidak membutuhkan skor tinggi di kertas hasil ujiannya. Dia mungkin tetap memilih duduk di bangku belakang saat ujian. Dekat tembok. Dan kali ini dia akan menjawab "Hadir, Bu," saat namanya saya panggil. Masih tetap berbisik.
Dan saya mendengarnya.
-
Raining is always about memories. Some are about joy, some bring tears. From the first drop of it, I can feel on the tip of my nose. It is s...
-
Enggan bertutur sapa. Kadang diam saat ditanya. Suaranya pun pelan saat keadaan memaksa. Namanya Harsal. Salah satu muridku di kelas 12. Ha...
-
Saat mengajar jam terakhir di kelas, yang mulai sekitar jam satu siang dan berakhir jam tiga. Di dalam kelas tidak ada kipas angin, tidak ad...