Thursday, September 12, 2019

Cuma Manusia Biasa

Sepulang dari sekolah selepas mengajar sore itu, saya langsung menelepon Ibu untuk bilang,

"Bu, maaf sudah kecewakan Ibu." Itu saja. Ibu tidak menyahut. 

Hari Sabtu itu cukup melelahkan. Saya mulai masuk kelas jam 7.15 di kelas X. Bangku di kelas belum sepenuhnya terisi. Masih ada saja satu dua siswa yang terlambat. Alasannya macam-macam. Terlambat bangun adalah alasan yang paling klise. Rencana untuk ulangan harian tertunda beberapa menit. Sambil menunggu seluruh siswa di kelas itu hadir semua. 


Satu setengah jam berlalu, saya lanjut mengajar di kelas XII. Ruang kelasnya jauh di belakang. Dekat pagar batas sekolah. Melewati beberapa unit ruang kelas, lapangan basket, kantor, laboratorium, ruang guru dan jembatan kecil untuk sampai ke sana dari ruang kelas yang pertama tadi. Saya sudah merasa seperti Dora the Explorer pagi itu. 


Kelas XII aman sampai jam istirahat. Satu setengah jam yang kedua terlewati. Istirahat 15 menit cukuplah untuk meluruskan punggung sebentar sambil menikmati ubi goreng bersama dua kawan sejawatku di perpustakaan sekolah.  Hilanglah penat saat itu hingga bel masuk kelas berikutnya berbunyi.


Jam 10.30 kelas terakhirku Sabtu itu. Agak panjang durasinya hingga jam 13.10 dijeda istirahat sholat Dhuhur. Entah kenapa, di kelas itu saya merasa kesal dengan ulah seorang anak. Kelas terakhir ini juga jadwalnya ujian, dan si anak ini sebut saja namanya Dudung berkali-kali berbohong. Semua hal yang saya tanyakan dijawabnya bohong dan saya tahu dia bohong. Dan parahnya lagi, dia juga tahu kalau saya tahu dia bohong. 


Saya marah. Saya kesal. Saya merasa dipermainkan. Saya ucapkan kata-kata dengan nada yang keras yang tidak sepatutnya didengar oleh anak-anak saya. Saya marahi dia. Saya banding-bandingkan dia dengan anak lain. Saya cela dia. Saya sudutkan dia. Saya tunjuk-tunjuk dia. Di depan kawan-kawan sekelasnya. Belum puas sampai disitu, saya laporkan ke wali kelasnya.


Saya berjalan ke arah pintu kelas dengan dada yang sesak dan jantung berdegup kencang. Angin kering meniup pepohonan di jalan setapak sepanjang lapangan depan kelas. Semilirnya teduh membuat dedaunan berguguran. Ranting-ranting dan cabang-cabang kecilnya meliuk-liuk.  Ranting-ranting kecilnya yang rapuh, patah berjatuhan di tanah kering.


Ranting patah itu saya pungut. Boleh jadi ia patah karena angin terlalu kencang meniupnya. Tiba-tiba saya teringat anak semata wayangku Mahesa yang saat itu juga pasti masih berada di sekolah. Bagaimana kalau ia berbuat kesalahan di sekolah. Bagaimana jika ia dimarahi gurunya. Bagaimana kalau ia dicela karena kesalahannya itu. Bagaimana jika ia disudutkan di depan teman-temannya. Bagaimana kalau... ah... Semestaku.


Saya gagal sabar. Saya gagal menjadi seperti dewa. Semestinya saya tidak perlu marah sehebat itu. Seharusnya saya yang notabene adalah manusia yang paling dewasa, paling matang, paling stabil tingkat emosinya di ruang kelas itu harus lebih bisa mengendalikan perasaan.  Si Dudung adalah semesta bagi kedua orang tuanya. Dan saya hanya menghukum diri sendiri dengan marah karena kesalahannya.


Dua hari kemudian saya harus mengajar di kelas yang sama. Di kelas yang ada si Dudung. Dan pagi itu Ibu telepon. Saya menduga Ibu akan bilang satu kata, Sabar. Namun pagi itu Ibu bilang begini,
"Jangan lupa sarapan. Kamu harus kuat. Kamu cuma manusia biasa. Bisa sakit. Ibu tidak mau kamu sakit."


Saya harus kuat. Manusia yang kuat tidak mudah marah. Marah bisa membuat sakit, patah dan jatuh berguguran. Kalimat Ibu menegaskan langkah saya pagi itu. Ibu yang menjadikan anaknya semesta. Walaupun saya cuma manusia biasa.

Wednesday, August 7, 2019

Saya Mendengarnya

Enggan bertutur sapa. Kadang diam saat ditanya. Suaranya pun pelan saat keadaan memaksa. Namanya Harsal. Salah satu muridku di kelas 12.

Harsal suka duduk sendiri. Di bangku paling belakang. Dekat tembok.

Dia hampir tidak pernah absen. Selalu hadir. Walau tanpa kontribusi berarti. Datang. Duduk. Diam.

Tulisannya sukar dibaca. Saya sering tidak memberikan skor untuk tugas-tugasnya di kelas. Hanya kasih paraf dan tanggal. Karena saya tidak bisa membaca apa yang dia tulis.

Pernah sekali Harsal tidak hadir. Tidak ada yang tahu apakah dia sakit atau ijin. Saat ditanya, semua teman kelasnya menjawab tidak tahu. Dan saya hanya menuliskan tanda 'titik' di daftar hadir. Bukan 'alfa' atau 'ijin' ataupun 'sakit'.

Setiap tahun pelajaran baru, selalu ada paling tidak satu siswa seperti Harsal. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, saya tetap berada di situ. Berada di kelas dimana Harsal berada. Kelas dimana Harsal-Harsal lain juga berada. Mengajar. Menjalin hubungan guru-murid.

Di awal tahun mengajar saya, mungkin saat masih setahun dua tahun mengajar, saya masih pilih-pilih untuk suka atau tidak suka berada bersama murid seperti Harsal. Murid yang diam. Hampa. Hanya fisiknya saja yang berada di kelas. Jiwanya jauh melanglang buana.

Bahkan terkadang, saya akan mengabaikan kehadirannya. Sudah cukup bagi saya dia mengangkat tangan saat namanya disebut. Bukan hanya saya. Namun teman sejawat lain pun, akan melakukan hal yang sama terhadap Harsal.

Tahun-tahun berlalu. Bersama Harsal lain di kelas saya. Harsal yang diam. Yang duduk di belakang. Dekat tembok. Saya berdiri di dekatnya saat memanggil namanya. Dan dia pun menyahut, "Hadir, Bu," sambil berbisik.

Hari-hari berikutnya, saya dekati dia. Saya bicara. Dia bicara. Saya senyum. Dia juga senyum. Saya bertanya. Dia menjawab. Berbisik. Tak didengar teman-temannya. Tapi saya dengar. Dan dia cuma butuh itu. Saya dengar.

Ini tahun ketiga Harsal di kelas saya. Atau barangkali bisa dibilang saya di kelas Harsal. Saya masih tidak menghitung skor tugas-tugasnya. Saya cuma kasih paraf dan tanggal. Dia tidak pernah bolos. Tidak pula terlambat. Menjawab "Hadir" saat namanya saya panggil. Walau hanya berbisik.

Tahun ini adalah tahun ke 14 saya mengajar. Butuh belasan tahun saya belajar dari seorang Harsal. Belajar banyak hal berharga tentang amanah seorang guru.

Harsal tidak banyak bicara. Namun ia berhasil mengomunikasikan harapannya dan impiannya kepada saya. Gurunya. Bahwa dia adalah murid yang paling membutuhkan perhatian yang sangat besar. Lebih besar daripada murid-murid lainnya. Perhatian yang sejatinya diberikan kepada Harsal-Harsal yang ada di tiap tahun pelajaran. Perhatian yang seharusnya ditujukan kepada murid yang paling lemah. Paling diam. Yang hanya memilih tembok belakang kelas sebagai tempat bersandar.

Berada di kelas dimana Harsal berada bukan lagi menjadi pilihan. Bukan persoalan suka atau tidak suka. Berada di kelas Harsal adalah karunia. Belajar darinya. Bahwa hal terpenting dalam mengajar bukan hanya tentang transfer ilmu, ketercapaian indikator bahkan penguasaan kompetensi saja. Bukan itu. Namun yang sangat berharga adalah ikatan guru-murid yang terjalin saat salah satu atau keduanya memiliki kendala berkomunikasi.

Harsal akan menghadapi ujian akhir tahun ini. Mungkin dia tidak membutuhkan skor tinggi di kertas hasil ujiannya. Dia mungkin tetap memilih duduk di bangku belakang saat ujian. Dekat tembok. Dan kali ini dia akan menjawab "Hadir, Bu," saat namanya saya panggil. Masih tetap berbisik.

Dan saya mendengarnya.

Jam Terakhir Pukul Satu