Pagi-pagi berangkat ke tempat ngajar. Sampai sekolah langsung check in. Eh, udah jam 7 seperempat. Waduh, untung saja tidak telat masuk kelas nih.
Dua jam pertama, aman. Kelas X MIA 1 memang rame. Ada si kembar Hasan dan Husein yang talkative. Ada Alif yang kritis. Ada Widya yang suka banget nerjemahin semua yang aku katakan. Yah, lumayanlah cukup banyak tenaga terkuras pagi-pagi. But overall, materi-ku lancar.
Setelah dua jam pelajaran di kelas X, aku lanjut tiga jam di kelas XII IPA 1. Tiga jam pelajaran itu yah sekitar 135 menit. Memang lama sih. Cuma kalau ngajar anak IPA itu, enak banget. Diberi penjelasan sedikit saja, mereka sudah pada mengerti dan sukses mengerjakan latihan soal. Dan alhamdulillah, proses belajar pun lancar.
Untung hari ini ada istirahat satu jam, jadi bisa aku gunakan buat memeriksa dan mengoreksi pekerjaan rumah siswaku yang belum sempat kuselesaikan kemarin.
Ngumpul dengan sahabat dan teman sejawat di ruang guru, kadang membuat suasana jadi hangat. Apalagi saat sharing tentang tingkah laku siswa yang sama-sama kami didik.
Cerita tentu dimulai dari anak-anak yang suka protes kalau diberi tugas. Siswa yang suka banget keluar masuk kelas ijin mau ini itu sebagai alasan tidak mau belajar. Ada juga kisah tentang siswa yang saat guru mengajar, dia suka ngomong. Terus saat ditanya, eh malah diam. Lalu ada juga tuh, siswa yang berkelahi di kelas, ada yang kesurupan di kelas, sampai siswa tidur dan keterusan pingsan di kelas.
Eit, kalau yang terakhir itu benar-benar terjadi saat aku mengajar jam terakhir tadi siang. Nah, ceritanya kelas X IIS 2 ini memang agak ribut deh. Terus di kelas ini ada siswa yang namanya Egi. Egi ini memang anak yang berkebutuhan khusus. Dia memang punya latar belakang penyakit yang menyebabkan dia itu tidak bisa mendapat perlakuan kasar ataupun suara keras yang berlebihan .
Jam terakhir hari sabtu itu aku mengajar materi self introduction lalu ada kegiatan menjodohkan kata-kata sebagai kegiatan untuk vocab building. Nah, si Egi yang memang pemahamannya kurang cepat dibanding teman lainnya itu mengerjakan latihan itu berbeda dengan contoh. Yah tidak masalah sih jika tulisannya masih kebaca. Lha ini semua kata disusun ke bawah dan bahkan dia sendiri tidak mengerti bagaimana cara menjodohkannya.
Melihat hal itu, teman-temannya pada tertawa. Maklum deh disitu siswa sebagian besar siswa lelaki dan lebih cerewet dibanding anak perempuan. Jadi sepertinya Egi jadi tertekan dan menunjukkan sikap acuh tak acuh sambil meletakkan kepalanya di meja dan....tidur.
Melihat hal itu, aku cuma bisa bilang ke teman-teman Egi supaya membiarkan saja jangan diganggu. Kalau bel pulang sudah bunyi baru dia dibangunkan.
Pada saat dibangunkan itulah terjadi insiden kecil. Ternyata Egi tidak tidur, tapi pingsan! Astaghfirullah, jangan hari ini deh. Aku ngajar 9 jam dari pagi sampai siang begini dengan harapan pulang dan istirahat dengan tenang bersama Putri kecilku. Sungguh aku tak berharap ada yang jatuh pingsan di kelasku.
Yah, tapi itulah yang terjadi. Syukurlah teman-teman guru yang lain dan anak-anak PMR juga mau turun tangan mengurusi si Egi. Kalau tidak, bisa sampai sore lagi deh di sekolah.
Satu hal yang membuatku yakin bahwa aku mampu menjalani hari yang seperti hari itu lagi adalah harapan bahwa setiap pulang kerumah, aku akan selalu disambut oleh senyum termanis Putri kesayanganku.