Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

Sunday, December 27, 2015

Kaset Jadul, Banyak Kenangan

Waktu bongkar-bongkar lemari niat bersih-bersih pas liburan, nemu kaset-kaset tua yang sudah berdebu. Ini beneran kaset tape yang sudah jarang anak-anak sekarang pake.

Kaset-kaset itu mau dibilang tua yaaah benaran tua. Ada yang dari taun 70-an. Ada juga yang dari taun 2000-an awal. Walaupun nggak mau dibilang kuno.

Yang menarik diantara tumpukan kaset berdebu itu adalah satu set kaset pelajaran Bahasa Inggris.

Menurut ibu saya, kaset itu diperoleh Bapak saya saat ikut turnamen catur sekitar tahun 1972 kalo nggak salah.

Jadi satu set kaset tersebut berisi 15 biji kaset. Yang masing-masing terdiri dari 2 volume di side A dan side B. Kaset itu juga dilengkapi dengan buku yang berisi transkrip atau teks dari isi kaset. Bukunya semua berjumlah 30 buah. Semacam lirik lagu, gitu.

Nah, jadi cara menggunakannya sambil ngedengerin kasetnya diputar, sambil baca buku teksnya. Semua lengkap beserta petunjuknya.

Uniknya, setiap kaset berisi dialog atau situasi yang lucu. Dan bukunya pun dilengkapi ilustrasi yang rada-rada nyeleneh, sedikit kuno kayaknya.

Saya pernah menggunakan kaset ini buat ngajar Bahasa Inggris di Laboratorium sekolah saya. Sebab disitu ada tape recorder buat muter kaset-kaset itu. Terakhir saya pakai udah lama banget sih. Sekitar 2 tahun lalu. Beberapa kaset kondisinya lumayan bagus. Tapi ada beberapa kaset yang memang tdk bisa lagi diputar. Biasa deh, eror-nya kaset itu gejalanya klo bukan tersendat terus stop, yah paling parah pita kaset-nya keluar semua dan jadi keriting :)

Tapi sebagai guru saya bersyukur masih bisa menikmati dan memanfaatkan teknologi jadul macam itu. Betapa berharga informasi di dalamnya.

Thursday, August 14, 2014

Kelas Akhir Pekan : In a Rush

Pagi-pagi berangkat ke tempat ngajar. Sampai sekolah langsung check in. Eh, udah jam 7 seperempat. Waduh, untung saja tidak telat masuk kelas nih.

Dua jam pertama, aman. Kelas X MIA 1 memang rame. Ada si kembar Hasan dan Husein yang talkative. Ada Alif yang kritis. Ada Widya yang suka banget nerjemahin semua yang aku katakan. Yah, lumayanlah cukup banyak tenaga terkuras pagi-pagi. But overall, materi-ku lancar.

Setelah dua jam pelajaran di kelas X, aku lanjut tiga jam di kelas XII IPA 1. Tiga jam pelajaran itu yah sekitar 135 menit. Memang lama sih. Cuma kalau ngajar anak IPA itu, enak banget. Diberi penjelasan sedikit saja, mereka sudah pada mengerti dan sukses mengerjakan latihan soal. Dan alhamdulillah, proses belajar pun lancar.

Untung hari ini ada istirahat satu jam, jadi bisa aku gunakan buat memeriksa dan mengoreksi pekerjaan rumah siswaku yang belum sempat kuselesaikan kemarin.

Ngumpul dengan sahabat dan teman sejawat di ruang guru, kadang membuat suasana jadi hangat. Apalagi saat sharing tentang tingkah laku siswa yang sama-sama kami didik.

Cerita tentu dimulai dari anak-anak yang suka protes kalau diberi tugas. Siswa yang suka banget keluar masuk kelas ijin mau ini itu sebagai alasan tidak mau belajar. Ada juga kisah tentang siswa yang saat guru mengajar, dia suka ngomong. Terus saat ditanya, eh malah diam. Lalu ada juga tuh, siswa yang berkelahi di kelas, ada yang kesurupan di kelas, sampai siswa tidur dan keterusan pingsan di kelas.

Eit, kalau yang terakhir itu benar-benar terjadi saat aku mengajar jam terakhir tadi siang. Nah, ceritanya kelas X IIS 2 ini memang agak ribut deh. Terus di kelas ini ada siswa yang namanya Egi. Egi ini memang anak yang berkebutuhan khusus. Dia memang punya latar belakang penyakit yang menyebabkan dia itu tidak bisa mendapat perlakuan kasar ataupun suara keras yang berlebihan .

Jam terakhir hari sabtu itu aku mengajar materi self introduction lalu ada kegiatan menjodohkan kata-kata sebagai kegiatan untuk vocab building. Nah, si Egi yang memang pemahamannya kurang cepat dibanding teman lainnya itu mengerjakan latihan itu berbeda dengan contoh. Yah tidak masalah sih jika tulisannya masih kebaca. Lha ini semua kata disusun ke bawah dan bahkan dia sendiri tidak mengerti bagaimana cara menjodohkannya.

Melihat hal itu, teman-temannya pada tertawa. Maklum deh disitu siswa sebagian besar siswa lelaki dan lebih cerewet dibanding anak perempuan. Jadi sepertinya Egi jadi tertekan dan menunjukkan sikap acuh tak acuh sambil meletakkan kepalanya di meja dan....tidur.

Melihat hal itu, aku cuma bisa bilang ke teman-teman Egi supaya membiarkan saja jangan diganggu. Kalau bel pulang sudah bunyi baru dia dibangunkan.

Pada saat dibangunkan itulah terjadi insiden kecil. Ternyata Egi tidak tidur, tapi pingsan! Astaghfirullah, jangan hari ini deh. Aku ngajar 9 jam dari pagi sampai siang begini dengan harapan pulang dan istirahat dengan tenang bersama Putri kecilku. Sungguh aku tak berharap ada yang jatuh pingsan di kelasku.

Yah, tapi itulah yang terjadi. Syukurlah teman-teman guru yang lain dan anak-anak PMR juga mau turun tangan mengurusi si Egi. Kalau tidak, bisa sampai sore lagi deh di sekolah.

Satu hal yang membuatku yakin bahwa aku mampu menjalani hari yang seperti hari itu lagi adalah harapan bahwa setiap pulang kerumah, aku akan selalu disambut oleh senyum termanis Putri kesayanganku.

Jam Terakhir Pukul Satu