Thursday, March 22, 2018

Menjadi Guru Tak Pernah Sederhana

Menjadi guru bukan hal yg sederhana. Saya memulainya sejak tahun 2002 sampai sekarang sudah sekitar 16 tahun di usia saya yang saat itu masih muda dan adalah fresh graduate dari sebuah universitas kependidikan negeri di Kota Makassar. Di awal mulai menjadi guru, semua idealisme masa kuliah mati-matian diperjuangkan. Mulai dari administrasi mengajar, teknik dan strategi pembelajaran, bahkan sampai begadang membuat sendiri alat peraga pembelajaran.

Itu dulu. Sekitar 10 tahun lalu. Waktu semangat dan jiwa muda masih berkobar demi anak bangsa. Masih terngiang-ngiang di telinga cita-cita untuk mengabdi di pulau terluar. Bahkan masih ingin rasanya jadi relawan di perbatasan.

Semenjak ada Ujian Nasional (UN) dan sertifikasi guru, banyak hal berubah. Di awal mulainya UN dijadikan dasar kelulusan siswa, orientasi pengajaran beralih menjadi sukses ujian. Lebih mementingkan hasil daripada proses. Ini berdampak pada performance siswa. Mereka terampil mengerjakan soal latihan daripada unjuk kinerja dan  skill nya.

Ditambah lagi dengan sertifikasi guru yang mewajibkan pertemuan tatap muka guru di kelas adalah 24 jam. Beban kerja 24 jam per minggu itu sebenarnya boleh dibilang gampang-gampang susah.

Bagi sebagian orang yg tidak memahami apa dan bagaimana pekerjaan 'guru' di kelas formal, maka tentu akan berkomentar gini, "yah itu kan udah resiko tugasnya kan. Lagian dapat tunjangan." Atau ada lagi yg bilang, "makanya guru harus kreatif dong supaya muridnya senang dan berprestasi."

Gak segampang itu. Gini lo, kalau mau dihitung-hitung nih. Anggaplah beban kerja 24 jam itu dibagi 2 kredit berarti 12 kelas. Jadi seorang guru rata-rata #wajib mengajar 12 kelas. Jumlah siswa di kelas kurang lebih 30 siswa per kelas. 30 siswa dikali 12 berarti 360 siswa per minggu.

Setiap guru harus menghadapi minimal 200 sampai 300 siswa per minggu. 200 siswa per minggu ! Siswa itu manusia. Mereka punya jiwa. Mereka unik. Masing-masing siswa itu punya kepribadian, karakter serta latar belakang pendidikan, ekonomi dan keluarga yang berbeda-beda. Setiap guru, mau tidak mau harus 'mengintervensi' kehidupan personal siswanya satu demi satu. Dan yg dilakukan guru bukan hanya mendidik tetapi juga mengisi jiwa mereka. Membakar semangat mereka. Membesarkan impian mereka. Ini pun bukan hanya terjadi di kelas. Tetapi sampai di lingkungan luar sekolah.

Hingga detik ini, menjadi guru adalah passion saya. Hasrat yang telah saya jalani hampir 16 tahun. Walaupun mungkin idealisme masa muda sudah terkubur dan tertimbun rapat jauh di palung terdalam kalbu, namun jalan hidup saya sebagai guru masih memiliki nafas. Nafas itulah yang menggerakkan jiwa-jiwa yang punya impian besar.

#they_are_people
#with_names

Thursday, March 8, 2018

Perkenalan

"Saya lahir di Ujungpandang. Ibu saya asal Jogja dan Ayah saya dari Tulungagung."

Kalimat itu masih sering menjadi pembuka perkenalan saya. Masa kecil saya terasa kikuk. Tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah suku asli. Dan datanglah keluarga saya di tengah-tengah mereka. Sebagai 'single fighter'. Yang pada awal tahun 80an, orang-orang masih memiliki kecenderungan  tidak mampu berbaur dengan pendatang, seperti keluarga saya.

Ayah saya pekerja keras. Menghidupi anak-anaknya sebagai pegawai pemerintah. Ayah saya dulu bekerja di perusahaan listrik milik pemerintah saat masih berstatus perum -perusahaan umum-. Gajinya kecil, tapi cukup. Cukup buat makan. Cukup buat beli sepetak tanah dan rumah untuk berteduh. Cukup pula untuk melengkapi sarana sekolah kami anak-anaknya.

Namun demikian, masa kecil saya terlewati dengan sulit saat saya mencoba mencari jati diri. Setiap pulang sekolah saya pasti menangis. Karena sepanjang jalan, teman-teman sepermainan banyak yang mengejek saya dengan memperolok asal suku orangtua saya : "jawayya". Yang maksudnya adalah orang Jawa. Dan setiap kali saya menangis, Ayah dan Ibu tidak pernah marah. Mau marah bagaimana. Sudah seperti itu sejak lahir.

Dan diputuskanlah bahwa Ibu dan Ayah tidak mengajarkan kami anak-anaknya bahasa Jawa. Sama sekali. Bahkan di setiap pertemuan para tetua, keluarga dan kerabat, kami juga tidak berusaha menguping, tidak berusaha cari tahu apa yang mereka bicarakan. Alasan Ayah adalah anak-anak harus mampu memperjuangkan dirinya sendiri tanpa perlu membawa-bawa identitas kedaerahan ataupun nama besar orangtua, apapun bentuknya.

And it works. Pesan itu pula yang saya teruskan untuk putri kecilku. Pencapaian yang diperolehnya adalah perjuangannya sendiri. Tanpa perlu mengkhawatirkan siapa dirinya, darimana asal orangtuanya, suku apa, siapa Ayah dan Ibunya. Dia hanya perlu membawa namanya sendiri.

Saya khawatir di jaman ketika putriku remaja nanti, ia akan berada dalam lingkungan yang bukan lagi mempersoalkan suku dan asal usul orangtuanya. Saya prihatin ketika remaja sudah bingung memutuskan akan ikut idola K-pop mereka yang mana. Atau bingung memilih brand untuk gadget mereka. Bingung ketika harus uplod foto yang mana untuk sosmed mereka. Bingung saat follower instagramnya berkurang......

Dan di sisa waktuku, di usia yang almost 40, saya hanya ingin menghabiskan waktuku menikmati momen-momen berhargaku dengan semesta cintaku.

We are people.
With names....

Jam Terakhir Pukul Satu