Friday, April 27, 2018

Kisah Keset Kaki

Kisah Keset Kaki

Keset kaki, sepasang sendal dan sapu. Ketiganya punya banyak persamaan. Biasanya ketiga macam benda ini tergeletak di teras rumah. Kadang letaknya rapi. Kadang pula tdk teratur. Ketiganya punya fungsi yg berhubungan dengan kebersihan.

Sendal misalnya, selain melindungi kaki, ia juga menjaga kaki agar tetap bersih dan nyaman. Terhindar dari kotoran.

Sapu juga begitu. Dipakai untuk membersihkan lantai dari debu dan kotoran lainnya.

Terlebih keset kaki. Kaki kadang tidak yakin bahwa lantai yg telah disapu itu bersih. Sehingga kaki pun memakai sendal. Khawatir kena debu. Begitu sendal dibuka, kaki digosokkan ke keset untuk memastikan tdk ada kotoran yg melengket.

Itulah mengapa keset kadang sering diletakkan di depan pintu atau jalan keluar masuk ruangan. Bahkan sering pula diletakkan di sisi tempat tidur.

Betapa besar fungsi keset bagi kemaslahatan kaki. Walaupun diinjak, digosok-gosok, bahkan sampai semua kotoran kaki melekat padanya, ia tetaplah keset kaki. Diletakkan di depan pintu.

Namun terkadang, kaki tdk menyadari. Bahwa debu-debu yg dibawanya melekat pada keset. Membuat keset itu menjadi suram. Tidak cerah. Bahkan usang. Keset yg sdh kotor dan usang, bukannya dicuci dan dibersihkan, tapi dibuang diganti yang baru.

Keset tetaplah keset. Apapun kehendak kaki, ia akan tetap 'welcome' terhadap berbagai jenis kotoran yang menimpanya.

#tengkyuuu_welcome
#they_are_people
#with_names

Thursday, March 22, 2018

Menjadi Guru Tak Pernah Sederhana

Menjadi guru bukan hal yg sederhana. Saya memulainya sejak tahun 2002 sampai sekarang sudah sekitar 16 tahun di usia saya yang saat itu masih muda dan adalah fresh graduate dari sebuah universitas kependidikan negeri di Kota Makassar. Di awal mulai menjadi guru, semua idealisme masa kuliah mati-matian diperjuangkan. Mulai dari administrasi mengajar, teknik dan strategi pembelajaran, bahkan sampai begadang membuat sendiri alat peraga pembelajaran.

Itu dulu. Sekitar 10 tahun lalu. Waktu semangat dan jiwa muda masih berkobar demi anak bangsa. Masih terngiang-ngiang di telinga cita-cita untuk mengabdi di pulau terluar. Bahkan masih ingin rasanya jadi relawan di perbatasan.

Semenjak ada Ujian Nasional (UN) dan sertifikasi guru, banyak hal berubah. Di awal mulainya UN dijadikan dasar kelulusan siswa, orientasi pengajaran beralih menjadi sukses ujian. Lebih mementingkan hasil daripada proses. Ini berdampak pada performance siswa. Mereka terampil mengerjakan soal latihan daripada unjuk kinerja dan  skill nya.

Ditambah lagi dengan sertifikasi guru yang mewajibkan pertemuan tatap muka guru di kelas adalah 24 jam. Beban kerja 24 jam per minggu itu sebenarnya boleh dibilang gampang-gampang susah.

Bagi sebagian orang yg tidak memahami apa dan bagaimana pekerjaan 'guru' di kelas formal, maka tentu akan berkomentar gini, "yah itu kan udah resiko tugasnya kan. Lagian dapat tunjangan." Atau ada lagi yg bilang, "makanya guru harus kreatif dong supaya muridnya senang dan berprestasi."

Gak segampang itu. Gini lo, kalau mau dihitung-hitung nih. Anggaplah beban kerja 24 jam itu dibagi 2 kredit berarti 12 kelas. Jadi seorang guru rata-rata #wajib mengajar 12 kelas. Jumlah siswa di kelas kurang lebih 30 siswa per kelas. 30 siswa dikali 12 berarti 360 siswa per minggu.

Setiap guru harus menghadapi minimal 200 sampai 300 siswa per minggu. 200 siswa per minggu ! Siswa itu manusia. Mereka punya jiwa. Mereka unik. Masing-masing siswa itu punya kepribadian, karakter serta latar belakang pendidikan, ekonomi dan keluarga yang berbeda-beda. Setiap guru, mau tidak mau harus 'mengintervensi' kehidupan personal siswanya satu demi satu. Dan yg dilakukan guru bukan hanya mendidik tetapi juga mengisi jiwa mereka. Membakar semangat mereka. Membesarkan impian mereka. Ini pun bukan hanya terjadi di kelas. Tetapi sampai di lingkungan luar sekolah.

Hingga detik ini, menjadi guru adalah passion saya. Hasrat yang telah saya jalani hampir 16 tahun. Walaupun mungkin idealisme masa muda sudah terkubur dan tertimbun rapat jauh di palung terdalam kalbu, namun jalan hidup saya sebagai guru masih memiliki nafas. Nafas itulah yang menggerakkan jiwa-jiwa yang punya impian besar.

#they_are_people
#with_names

Thursday, March 8, 2018

Perkenalan

"Saya lahir di Ujungpandang. Ibu saya asal Jogja dan Ayah saya dari Tulungagung."

Kalimat itu masih sering menjadi pembuka perkenalan saya. Masa kecil saya terasa kikuk. Tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah suku asli. Dan datanglah keluarga saya di tengah-tengah mereka. Sebagai 'single fighter'. Yang pada awal tahun 80an, orang-orang masih memiliki kecenderungan  tidak mampu berbaur dengan pendatang, seperti keluarga saya.

Ayah saya pekerja keras. Menghidupi anak-anaknya sebagai pegawai pemerintah. Ayah saya dulu bekerja di perusahaan listrik milik pemerintah saat masih berstatus perum -perusahaan umum-. Gajinya kecil, tapi cukup. Cukup buat makan. Cukup buat beli sepetak tanah dan rumah untuk berteduh. Cukup pula untuk melengkapi sarana sekolah kami anak-anaknya.

Namun demikian, masa kecil saya terlewati dengan sulit saat saya mencoba mencari jati diri. Setiap pulang sekolah saya pasti menangis. Karena sepanjang jalan, teman-teman sepermainan banyak yang mengejek saya dengan memperolok asal suku orangtua saya : "jawayya". Yang maksudnya adalah orang Jawa. Dan setiap kali saya menangis, Ayah dan Ibu tidak pernah marah. Mau marah bagaimana. Sudah seperti itu sejak lahir.

Dan diputuskanlah bahwa Ibu dan Ayah tidak mengajarkan kami anak-anaknya bahasa Jawa. Sama sekali. Bahkan di setiap pertemuan para tetua, keluarga dan kerabat, kami juga tidak berusaha menguping, tidak berusaha cari tahu apa yang mereka bicarakan. Alasan Ayah adalah anak-anak harus mampu memperjuangkan dirinya sendiri tanpa perlu membawa-bawa identitas kedaerahan ataupun nama besar orangtua, apapun bentuknya.

And it works. Pesan itu pula yang saya teruskan untuk putri kecilku. Pencapaian yang diperolehnya adalah perjuangannya sendiri. Tanpa perlu mengkhawatirkan siapa dirinya, darimana asal orangtuanya, suku apa, siapa Ayah dan Ibunya. Dia hanya perlu membawa namanya sendiri.

Saya khawatir di jaman ketika putriku remaja nanti, ia akan berada dalam lingkungan yang bukan lagi mempersoalkan suku dan asal usul orangtuanya. Saya prihatin ketika remaja sudah bingung memutuskan akan ikut idola K-pop mereka yang mana. Atau bingung memilih brand untuk gadget mereka. Bingung ketika harus uplod foto yang mana untuk sosmed mereka. Bingung saat follower instagramnya berkurang......

Dan di sisa waktuku, di usia yang almost 40, saya hanya ingin menghabiskan waktuku menikmati momen-momen berhargaku dengan semesta cintaku.

We are people.
With names....

Friday, January 19, 2018

I'm OK... and I'm not lying

Ketika seseorang bilang, "I'm OK," itu bukan berarti dia benar-benar baik-baik saja. Mungkin dia hanya sekedar ingin terlihat tegar. Atau mungkin dia hanya lelah untuk menjelaskan apa yg sebenarnya terjadi.

Saya sering menggunakan ungkapan "I'm OK,". Bahkan pada saat saya tidak benar-benar OK. Ya, saya bohong. Terkadang ditambah dengan senyum palsu. Lengkap sudah.

Kenapa harus bilang "Saya baik-baik saja,"? Kenapa tidak duduk dan bercerita semua problem yg saya hadapi.

Alasannya adalah bahwa tidak semua orang ingin 'mendengar'. Tidak semua orang peduli. Dan tidak semua hal harus diceritakan.

Dengan mengatakan "I'm OK," adalah cara saya memberi penghargaan pada diri saya. It's self respect. Cara mencintai diri saya. Agar saya lebih meyakini bahwa semua masalah yang saya hadapi pasti akan berlalu. Dan segalanya akan berakhir baik-baik saja.

That's how I love my self better...

Wednesday, November 29, 2017

Hal Kecil Yang Mengubah Hariku

Satu hal kecil yg dilakukannya mungkin dianggap tak berarti. Namun bagi saya it was worth a million. Saya bertemu dia di pagi hari, sedang membukakan pintu gerbang sekolah utk guru yg berkendaraan roda empat,  tanpa disuruh. Suatu siang, saat  saya mengajar dikelasnya,  dia tengah membersihkan papan tulis,  tanpa diminta. Di kesempatan lain,  saya bertemu dengannya menyusuri jalan setapak sepanjang lapangan menuju kelas,  dia menawarkan membawakan ransel dan buku-buku saya.

Seusianya,  di generasinya,  mungkin agak sulit menemukan sosok anak remaja seperti dirinya. Yg dgn ringan tangan melakukan hal-hal kecil that make difference for others..

Hal-hal yg dilakukannya buat saya itu sangat memberi perubahan besar,  at least for me. Setidaknya hal itu merubah cara pandang saya terhadap remaja seusia dia. Bahwa mereka bukan hanya sensitif thdp hal-hal  yg berpusat pada diri mereka. Namun ada remaja di jaman now juga peka terhadap kebutuhan orang lain. It surely changed my world...

Friday, June 30, 2017

Mother

Mother, I still remember the moment, when nobody seemed to care that I also need time for myself. You rubbed my head and combed my hair with your fingers, that looked so pale. My tears fell down my cheecks that I didnt care to wipe. You said nothing, as if you know that was all I need. And the tears dried away, suddenly.

Mother, I still remember the time, when I had it all wrong. The world turned upside down all around me. But you always, always forgave my imperfection. And turned it all right, perfectly.

Mother, I still remember the time, when I had all this pain and wounds leaving scars through the bottom of my heart. You stood there, grabbed my hands and smiled. You said nothing and you told me to smile. Even if it was only a fake smile.

Mother, I still remember the moment, when people took all my time that I cant even save myself out of my crazy love and misery life. You always, always called me. Even then I missed your call and didnt call back.

Mother, I still remember the time, when I felt like giving up my life. When no one seemed to understand. You gave me permission to cry. On your shoulder, so fragile by old age. That I fell asleep, and woke up and relieved.

God, I wanna go home. I miss my Mom...

Memoirs of Rain in June

Raining is always about memories. Some are about joy, some bring tears. From the first drop of it, I can feel on the tip of my nose. It is soft and gentle.

The sound of the first drops on the roof of my house, always bring me to my childhood. Full of wonders and adventures with early friendship. Some drops can bring me back to the saddest moment when Daddy didn't come home anymore.

The smell of wet soil is another story. Drops of the rain stop on earthen pot of my Mom's lovely daffodil. It is a parfume of nature that God intentionally created. To remind me that I am made of earth.

Jam Terakhir Pukul Satu