Kisah di Fort Rotterdam ini sudah berlalu 14 tahun. Lebih dari satu dekade. Namun setiap kali kucoba mengenangnya, selalu saja ada mata rantai yang putus dalam kisah itu. Aku tak bisa memahami kemana kenangan itu pergi. Menguap begitu saja.
Kisah di Fort Rotterdam itu bukan hanya tentang persahabatan. Juga tentang perjuangan. Tentang pengorbanan. Tentang harga diri. Apakah hanya aku yang mengenangnya.
Dua bulan, kami berlima. Aku, Oga, Ari, Fahmi dan Rido harus berkenalan dengan benda-benda purbakala di Museum Lagaligo. Peninggalan jaman kuno yang mungkin anak SD lebih tahu. Masih terbayang jelas saat harus mendata ulang buku-buku perpustakaan. Tak terbayang betapa mengesankannya saat melihat buku tua penuh debu untuk dibuatkan katalog baru.
Mungkin aku akan lebih terkesan ketika istirahat membuka bekal makan siang lalu sholat berjamaah di penjara Pangeran Diponegoro. Kesan hening, mistis dan agak menyeramkan, kurasa.
Atau kesan ketika kami berlima duduk di bawah pohon beringin tua depan gereja. Yang saat hendak berpisah, kami hanya bisa menangis. Bukan sedih sebab mungkin tak bertemu lagi. Tapi pohon beringin penuh kenangan itu harus ditebang, pada akhirnya.
Apakah hanya aku yang mengenang. Ketika naik ke atas tembok Benteng Ujungpandang. Melihat ke arah Losari. Menatap Pulau Kahyangan, Barang Caddi dan Baranglompo. Bahkan angin pantai pun masih terasa menembus kisi hatiku. Dan debur ombaknya pun masih mampu menggetarkan jantungku.
Apakah hanya aku yang terus mencari. Sebuah kisah yang tak lagi mampu diceritakan. Kisah pilu yang tak ingin dikenang. Atau kisah cinta yang selalu mewarnai hari-hariku, hingga kini. Atau mungkin kita terlalu pandai menutupi, berpura-pura itu tidak lagi bermakna. Atau karena kita terlalu gengsi untuk mengakui bahwa sebenarnya kita saling merindu.
Tak apalah. Fort Rotterdam adalah saksi bisu perjuangan. Hal yang kusesali saat terakhir menjengukmu, aku hanya datang sendiri. Tapi aku bahagia masih bisa menceritakannya..
No comments:
Post a Comment