Sunday, May 13, 2018

Pulang

Menjelang Ramadhan seperti ini, satu hal yang paling saya impikan adalah : pulang. Semenjak menikah, bekerja dan menetap di Palopo, sejak 13 tahun lalu, saya tidak pernah berpuasa Ramadhan penuh di kampung halaman. Tiga atau empat hari mungkin menjelang lebaran, pernah. Itupun dua tahun lalu.

Hakekat pulang buat saya sangat berharga. Apalagi di bulan Ramadhan. Pulang adalah ‘menuntaskan’ rindu. Pulang ke rumah Ibu. Masih ingin berbaring di kursi tamu, tempat favoritku. Masih ingin duduk di teras rumah, ditiup angin sore. Sejuk dengan lambaian daun-daun langsat di halaman depan rumah. Dan jangan ditanya saat hujan. Tetes-tetes air hujan hingga derasnya turun melewati kisi-kisi atap rumah. Sedikit-sedikit percikannya mengenai kepala dan dahiku yang jatuh melalui atap yang bocor. Mengalir di pipi...hangat berbaur dengan airmata.
Pulang adalah ‘ditemukan’. Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Beda usia saya dan kakak-kakak adalah sekitar 9 dan 10 tahun. Ini membuat saya tidak begitu dikenal oleh keluarga besar dan kerabat. Ditambah lagi, selepas kuliah saya pindah ke kota lain. Jarang pulang. Saya ingin ditemukan kembali bukan hanya oleh kerabat dan keluarga besar. Tetapi juga oleh ‘ikatan’ yang sudah lama tercipta dengan antara saya dan ‘rumah’ secara fisik maupun suasananya. Walau penuh dengan bising suara kendaraan, ditambah deru mesin pembangkit listrik saat maintenance. Ataupun bunyi tiang pancang gedung-gedung bertingkat, serta buldozer di jalan raya.

Pulang bagi saya juga adalah ‘menemukan’. Pulang ke tempat kelahiran. Saya ingin menemukan kenangan. Menapaki kembali lorong menuju rumah Ibu. Menyusuri jembatan menuju kampung sebelah, tempat kawan-kawan masa kecilku bermain di lapangan kecil, dengan bola kecil. Di ujung jalannya ada rawa ditumbuhi eceng gondok yang saat berbunga, menjadi hamparan karpet ungu muda, warna yang membuat saya mengharu biru. Janji bertemu di dataran tinggi, berbukit-bukit tempat main lompat tali. Dan ketika lelah, saya dan kawan-kawan, Ari, Wanda, Neneng, Erna, dan Suri duduk di puncak bukit yang paling tinggi menatap Kampus Merah di kejauhan. Sepulangnya sudah Magrib, dan Ibu menunggu di pintu pagar. Tatapannya sudah membuat telingaku panas, siap dijewer. Tambah panas ketika tahu kedua kakakku mengintip cekikikan di balik jendela. Telinga panas. Begitupun pipiku... mengalir sesuatu yang hangat.
Bukankah kita semua harus pulang? Hanya saja, rindu yang saya miliki mungkin berbeda. Rindu yang tidak akan pernah tuntas. Rindu yang ingin menemukan dan ditemukan. Rindu yang hanya akan hadir bersama semesta cintaku...

#We_are_people
#With_names

No comments:

Post a Comment

Jam Terakhir Pukul Satu