Thursday, March 16, 2017

Mother, I'm coming home

Mother, I still remember the moment, when nobody seemed to care that I also need time for myself. You rubbed my head and combed my hair with your fingers, that looked so pale. My tears fell down my cheecks that I didnt care to wipe. You said nothing, as if you know that was all I need. And the tears dried away, suddenly.

Mother, I still remember the time, when I had it all wrong. The world turned upside down all around me. But you always, always forgave my imperfection. And turned it all right, perfectly.

Mother, I still remember the time, when I had all this pain and wounds leaving scars through the bottom of my heart. You stood there, grabbed my hands and smiled. You said nothing and you told me to smile. Even if it was only a fake smile.

Mother, I still remember the moment, when people took all my time that I cant even save myself out of my crazy love and misery life. You always, always called me. Even then I missed your call and didnt call back.

Mother, I still remember the time, when I felt like giving up my life. When no one seemed to understand. You gave me permission to cry. On your shoulder, so fragile by old age. That I fell asleep, and woke up and relieved.

God, I wanna go home. I miss my Mom...

Friday, March 10, 2017

Zootopia : Wujud Persahabatan Antar Kelinci dan Musang

Nonton film #Zootopia jd bikin senyum-senyum sendiri. Sebenarnya udah lama nonton film ini. Teringat karakter dalam film si kelinci Judy Hopps yang begitu bersemangat mewujudkan cita-citanya dan bekerja tanpa pamrih. Lalu ada Nick Wilde si rubah yg awalnya tukang tipu kemudian akhirnya menjadi tokoh baik. Terus ada Dawn Bellwheter si domba yg kelihatan lugu dan suuuuper baik namun merupakan mastermind dari seluruh kejahatan di Zootopia.

Saya tersentuh dgn kecerdasan jalan cerita film ini. Awalnya semua berupa puzzle. Kok bisa? Karakter yg awalnya buruk, bisa jadi baik. And vice versa. Ternyata semua berpusat pada satu titik : kebaikan.

Ada orang-orang dalam hidup kita begitu terinspirasi, tergugah hatinya setelah merasakan suatu tindakan baik yg dilihat atau diterimanya. Namun tak sedikit diantara kita, justru merasa tidak nyaman jika kebaikan bertebaran dimana-mana. Mereka kadang risih jika ada orang lain yang mendapatkan lebih banyak kebaikan. Ada nggak? It's true.

Dan film ini menjadi cerminan tokoh-tokoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa tidak mudah menemukan sahabat sejati. Butuh proses yang paaaaaanjang dalam ujian dan cobaan yang lama. Bahkan selama apapun kita mengenal seseorang sebagai seorang teman, belum tentu mampu menjadi sahabat.

Saya tersenyum kembali mengenang film ini bahkan berencana menonton sekali lagi. Sebab di film ini benar-benar saya temukan musang berbulu domba dan rubah berhati biri-biri. Bukan hanya ungkapan semata.

#cheers

Friday, February 24, 2017

Thing I Would've Regretted

While we are complaining for being tired after working all day, arguing to choose the perfect restaurant for our birthday celebration, debating the school we want to send our children to study, and doing it over and over every day, every hour, every minute and second; without realizing that on the other part of the earth, some people, our brothers and sisters have no room for complaining. They dont have time arguing, nor even debating their job, food, and study. Their lives are at stake under bombs and missiles... I can't believe I would say this, but I'm so ashamed that I still sit here and do nothing about it.

Fort Rotterdam : Kisahmu 14 Tahun Lalu

Kisah di Fort Rotterdam ini sudah berlalu   14 tahun. Lebih dari satu dekade. Namun setiap kali kucoba mengenangnya, selalu saja ada mata rantai yang putus dalam kisah itu. Aku tak bisa memahami kemana kenangan itu pergi. Menguap begitu saja.

Kisah di Fort Rotterdam itu bukan hanya tentang persahabatan. Juga tentang perjuangan. Tentang pengorbanan. Tentang harga diri. Apakah hanya aku yang mengenangnya.

Dua bulan, kami berlima. Aku, Oga, Ari, Fahmi dan Rido harus berkenalan dengan benda-benda purbakala di Museum Lagaligo. Peninggalan jaman kuno yang mungkin anak SD lebih tahu. Masih terbayang jelas saat harus mendata ulang buku-buku perpustakaan. Tak terbayang betapa mengesankannya saat melihat buku tua penuh debu untuk dibuatkan katalog baru.

Mungkin aku akan lebih terkesan ketika istirahat membuka bekal makan siang lalu sholat berjamaah di penjara Pangeran Diponegoro. Kesan hening, mistis dan agak menyeramkan, kurasa.

Atau kesan ketika kami berlima duduk di bawah pohon beringin tua depan gereja. Yang saat hendak berpisah, kami hanya bisa menangis. Bukan sedih sebab mungkin tak bertemu lagi. Tapi pohon beringin penuh kenangan itu harus ditebang, pada akhirnya.

Apakah hanya aku yang mengenang. Ketika naik ke atas tembok Benteng Ujungpandang. Melihat ke arah Losari. Menatap Pulau Kahyangan, Barang Caddi dan Baranglompo. Bahkan angin pantai pun masih terasa menembus kisi hatiku. Dan debur ombaknya pun masih mampu menggetarkan jantungku.

Apakah hanya aku yang terus mencari. Sebuah kisah yang tak lagi mampu diceritakan. Kisah pilu yang tak ingin dikenang. Atau kisah cinta yang selalu mewarnai hari-hariku, hingga kini. Atau mungkin kita terlalu pandai menutupi, berpura-pura itu tidak lagi bermakna. Atau karena kita terlalu gengsi untuk mengakui bahwa sebenarnya kita saling merindu.

Tak apalah. Fort Rotterdam adalah saksi bisu perjuangan. Hal yang kusesali saat terakhir menjengukmu, aku hanya datang sendiri. Tapi aku bahagia masih bisa menceritakannya..

Kisah Hujan

Mendung lagi siang ini. Musim hujan begini kadang bikin 'baper'. Entah karena suasananya. Atau karena banyak kisah yang terjadi saat hujan. Atau mungkin memang benar yg dikatakan orang bahwa hujan itu terdiri dari hanya 10% air. Sisanya adalah kenangan.

Dan memang benar. Hujan jatuh sedikit-sedikit. Ada titik-titik air di koridor kelas. Tetes air hujan sudah mulai mencipta harmoni di atap kelas. Dan daun-daun jeruk nipis di depan Lab Biologi tempat Ibu Sugiyah mengajar, sudah tampak hampir seluruhnya basah.

Hujan sudah seluruhnya turun. Membasahi lapangan basket. Bahkan sudah membentuk genangan di sekitar selokan ke arah jalan raya.

Dan aku masih disini menanti hujan reda. Sedikit-sedikit tetesnya mengenai ujung sepatuku. Percikan genangan air juga tak mau kalah turut membasahi keliman rokku yang menjuntai saat menyeberang dari satu gedung ke gedung lainnya.

Setiap tetes hujan adalah kenangan. Sama seperti tetes hujan yang menyirami kita saat menunggu microlet di trotoar Mesjid Raya. Apakah ini adalah tetes hujan yang sama menyirami kita saat berlari di jalan kampus mengejar kelas Kewiraan sore itu. Apakah ini juga hujan yang sama yang membasahi kita saat pertama kali aku mengunjungi kotamu.

Dan jika jawabnya benar iya, biarkan diriku tetap berharap bahwa kenangan itu masih disana. Dikisahkan oleh hujan. Saat tak ada lagi yang bisa menceritakannya.

Thursday, January 26, 2017

Secret vs Understanding

Ada banyak hal yg tdk perlu diucapkan, apalagi hal itu mungkin menyakitkan. It's not a SECRET, I call it 'UNDERSTANDING'.

Wednesday, September 28, 2016

Barfi : Happiness in Small Things

It takes at least two to love.

Begitu kira-kira pesan yg saya dapat setelah nonton Indian movie #Barfi. Saya sebenarnya bukan penggemar Indian movie banget. Nemu file-nya juga baru beberapa hari lalu saat bersih-bersih external hardisk.

Saya langsung jatuh cinta sama film ini sejak scene pertama ketika Shruti berada di kelas tunarungu. Mengajar dgn menggunakan bahasa isyarat. Wow, saya pikir ini film layak tonton nih. Eh, ternyata benar.

Seperti layaknya typical Indian movie, #Barfi emang bikin baper. Tapi gak berlebihan deh. Gak ada tuh adegan nyanyi-nyanyi ujan-ujanan. Walaupun film India emang identik dgn nyanyi. Dikit-dikit nyanyi. Jatuh cinta, nyanyi. Digebukin orang juga nyanyi.

Pokoknya #Barfi beeeeda banget. Bercerita tentang tokoh utama Barfi yg bisu-tuli, kemudian Shruti yg jatuh cinta padanya. Lalu ada Jhilmil yg autis, dan juga cinta pada Barfi. Film ini dikemas dalam alur maju mundur yang apik dan cerdas.

Film #Barfi ini emang gak mudah dicerna. Ada sih beberapa scene yang mirip ala-ala film The Notebook yg dibintangi Ryan Gosling. Namun gak mengganggu banget kok.

Saat nonton film ini , saya juga jadi baper. Mau dibilang cinta segitiga, juga bisa. Pada akhirnya menjadi cinta tak berbalas, juga cocok. Ada saat Barfi membuat tertawa ngakak, namun ada momen ia membuat nangis.... Tissu..mana tissu.... Hiks..

Durasi film lumayan panjang sekitar 2 jam setengah. Jadi siapin aja waktu luang banget buat nonton. Soalnya kalau di-pause nggak asik. 😉😉😂😂

Quote yg paling saya suka : "silence is the language of love", memang gak salah.

Jam Terakhir Pukul Satu