Thursday, October 11, 2018

I Love Myself

Justin Bieber boleh menyindir cewek yg selalu ingin mencari perhatian dan mengintervensi kehidupan orang lain terlalu jauh. Dia boleh bilang 'just go, and love your self'. Dan dia boleh bilang bahwa mereka yg hanya mencintai dirinya sendiri adalah mereka yg egois. Terlepas dari itu semua, saya suka versi akustik lagu itu.

Saya pernah berada dlm posisi seperti si cewek dlm lagu Justin. Yup, who wasn't? Everyone needs at least one person who cares. Dan itupun saya alami.

Namun di saat itu saya sadar bahwa orang pertama yang mencintai diri saya, yang peduli dengan saya adalah : saya sendiri. Sesekali kita perlu 'menghilang' agar orang lain tahu bahwa kita tidak selalu available. Dan dengan penuh percaya diri mengatakan :  I love my self..

#they_are_people
#with_names

Wednesday, October 10, 2018

Mom Don't Worry

"Mom, don't worry. I'm fine. Cuma itu yang mereka miliki. Saya senang karena mereka sudah bersusah-susah menghabiskan waktu untuk memikirkan saya. " Itu katanya suatu saat, ketika ada orang yang mencela dirinya, menyebut-nyebut kekurangan fisiknya, di depan dia.

Dia. Tentang dia. Semua hanya tentangnya. Seluruh duniaku, cintaku adalah dia. Saat dia sakit, saat dia gelisah, saat dia kecewa... rasanya seluruh semesta hidupku ikut luruh tak berdaya.

Tapi dia begitu kuat. Tegar dan kokoh. Karena dia adalah bentuk paling sempurna yang pernah Tuhan titipkan buatku. Dan dia cuma senyum dan bilang, "Mom, I don't have to explain anything. I'm already perfect."

#my_princess
#my_universe

Sunday, October 7, 2018

I'm Leaving, Seriously

Ada orang-orang tertentu yang masuk ke dalam hidup kita hanya untuk memberikan rasa sakit. Entah karena memang mereka memiliki maksud seperti itu atau karena kita mengijinkan serta memberi ruang dan kesempatan bagi mereka untuk menyakiti kita. Dan bodohnya, kita menyadarinya.

Namun berterima kasihlah kepada orang-orang yang pernah menyakiti, mengkhianati, mengingkari janji dan membuat kita terpuruk jatuh dan mungkin hampir tidak bisa bangkit lagi. Karena dari merekalah, kita bisa menghargai keberadaan orang-orang lain yang pantas memperoleh perhatian, kasih sayang dan cinta kita.

Ada kalanya cinta hadir pada tempat, waktu bahkan orang yang salah. Di saat itu kita menjadi buta tuli dan bodoh hanya karena kata-kata mesra berbunga-bunga. Kita diayun-ayun dengan ungkapan rindu yang mendayu-dayu dan suara merdu. Padahal di balik itu semua hampa dan sebenarnya tidak bermakna apa-apa. Karena sang empunya cinta tidak mengenal bahwa ikatan rindu- cinta adalah ikatan timbal balik, ikatan 'saling' yang tidak egois dan merupakan satu keutuhan rasa.

Dan pada satu titik, kita akan mendapati bahwa rasa itu tidak lagi memiliki makna. Seolah-olah hanya kita seorang saja yang terus menerus berjuang. Di saat itulah kita harus berhenti. Bukan menyerah. Mungkin kita berjuang untuk sesuatu yang salah. Dan itulah waktu yang tepat untuk pergi agar mereka yang tidak menghargai kita tidak lagi bermain-main tentang hati dan rasa.

#we_are_people
#with_names

Saturday, September 15, 2018

Ikatan Guru-Murid, Ikatan Kerinduan

Mengajar adalah passion saya. I love teaching. Dan di setiap pertemuan perdana awal tahun ajaran, saat perkenalan, saya ingin murid-murid saya tahu bahwa saya mencintai mereka apa adanya. Saya 'mengijinkan' murid-murid saya agar tidak segan mengingatkan jika saya lalai atau lupa. Bahkan bukan hanya itu, karena saya adalah pembicara cepat, biasanya saya meminta mereka untuk tidak segan mengingatkan saya untuk slow down a little bit jika mereka tidak mengerti apa yang saya bicarakan.

Setiap awal semester, seringkali saya menegaskan diri saya untuk tidak terlibat secara emosional terlalu dalam dengan murid-murid saya. Namun hati nurani tidak dapat berbohong. Dalam sorot mata anak-anak itu, saya melihat ada kerinduan yang membalut ikatan guru-murid. Dan tidak bisa saya ingkari bahwa ikatan itu pula yang saya dambakan untuk Putri saya dengan gurunya.

Namun ada momen ketika passion keguruan saya sedikit tergelitik dengan hadirnya seorang siswa yang sangat unik. Unik karena dia memang sangat berbeda. Entah karena saya yang terlalu menghakimi atau karena dia yang membiarkan orang lain melihat dia dengan cara itu.

Sepanjang perjalanan mengajar saya yang berbelas-belas tahun itu, sering kali menemukan sedikitnya satu siswa sangat unik dalam berbagai hal. Positif ataupun negatif. Dan momen tempo hari  itu membuat saya hampir saja broke down secara fisik dan psikologis karena ulah siswa yang sangat unik itu. Bahkan jika tidak mengingat ikatan guru-murid, mungkin saya akan tersinggung dan menangis.

Walaupun begitu, saya hanya manusia biasa. Saya juga bisa sedih dan kecewa. Hal yang bisa menguatkan saya adalah kenyataan bahwa saya masih memiliki banyak sekali ikatan guru-murid yang layak saya pertahankan. Ikatan yang sudah lama terjalin bukan hanya atas dasar kebutuhan dan kepentingan. Tapi ikatan kasih sayang dan kerinduan...

Friday, June 15, 2018

Buku atau Film : Runaway Paths

Baca buku atau nonton film? Dua-duanya adalah upaya 'penebusan' bahkan 'pengampunan' dari rutinitas kesibukan sejak dini hari hingga petang. Saya sebenarnya tidak ingin menyebutnya sebagai 'pelarian' sebab kepadatan kegiatan saya tidak menjadi alasan untuk melarikan diri. Saya cinta pekerjaan saya. Namun tentu saya juga butuh buku dan film seperti halnya saya butuh tidur dan makan, di luar rutinitas saya.

Sebuah buku karya penulis pujaan saya Agatha Christie yang kemudian mengantarkan saya untuk menggemari novel detektif sejak kelas satu SMP berjudul 'Sepuluh Anak Negro'. Novel ini adalah terjemahan dari crime novel Christie yang berjudul 'And Then There Were None'. Novel ini kemudian belakangan tahun 2015 dibuat mini serinya dengan judul yang sama.

'Sepuluh Anak Negro' adalah novel crime-detective yang sedikit berbau magis dan berkesan creepy. Novel ini berkisah tentang 10 orang berada di suatu pulau diundang untuk berbagai alasan yang berbeda dan pada akhirnya mereka tewas satu persatu sebagai 'penebusan' dosa-dosa yang mereka lakukan di waktu lalu dan tak tersentuh oleh hukum.

Seperti biasa, karya Christie harus dinikmati kata demi kata. Karya yang tidak bisa saya terjemahkan hanya melalui sinopsisnya saja. 'Sepuluh Anak Negro' saya baca ulang dalam versi aslinya 10 tahun kemudian. Menikmati karya terjemahan dan versi asli butuh energi banyak sebab saya tidak bisa lepas dari proses 'membandingkan' bahkan 'menghakimi' kedua versi tersebut.

Hal itu pun semakin berkesan tidak sederhana saat saya menonton mini seri novel tersebut. Walaupun tetap menggunakan judul yang sama, banyak detil yang berbeda dari versi novelnya. Momen-momen mengejutkan malah berkesan horor yang susah dijelaskan. Bahkan ending-nya tidak seperti yang saya bayangkan setelah bertahun-tahun 'terbius' dengan karakter novel yang penuh misteri. Padahal di versi novelnya, semua hal dijelaskan Christie dengan logis dan tidak gaib. Apabila saya lebih dulu menonton film sebelum membaca buku, mungkin saya akan mendapatkan kesan berbeda.

'Sepuluh Anak Negro' hanya satu diantara sekian banyak buku yang menjadi dunia saya. Dunia yang dulu hanya bisa saya kunjungi setelah mengumpulkan uang jajan seminggu dan menyewanya di perpustakaan. Novel Christie, Steele, Doyle adalah dunia yang menawarkan impian yang tidak sanggup saya beli. Tokoh-tokoh dalam novel mereka adalah 'teman-teman' saya, yang tentu saja tidak perlu banyak maintenance, selalu konsisten, tidak berpura-pura.

Visualisasi buku menjadi film cukup mampu mengalihkan dunia saya. Walaupun sensasi yang saya rasakan saat 'lari' ke dunia film tentu lebih memuaskan panca indera namun kenikmatan mencerna kata-kata dan membiarkannya berlarian bebas menemukan sendiri wujudnya tidak dapat saya gantikan. Tentang siapa Hercule Poirot detektif swasta yang kepalanya berbentuk telur. Tentang bagaimana Miss Marple menatap matanya sendiri di cermin dan memiringkan topinya. Tentang Holmes dan Watson... ah..

Saya masih punya waktu sepekan ini. Sebelum back to routines. Saya masih punya list buku yang belum habis saya baca. Dan film di daftar tonton iflix yang begitu menggoda mengijinkan saya membuka runaway paths...

Sunday, May 13, 2018

Pulang

Menjelang Ramadhan seperti ini, satu hal yang paling saya impikan adalah : pulang. Semenjak menikah, bekerja dan menetap di Palopo, sejak 13 tahun lalu, saya tidak pernah berpuasa Ramadhan penuh di kampung halaman. Tiga atau empat hari mungkin menjelang lebaran, pernah. Itupun dua tahun lalu.

Hakekat pulang buat saya sangat berharga. Apalagi di bulan Ramadhan. Pulang adalah ‘menuntaskan’ rindu. Pulang ke rumah Ibu. Masih ingin berbaring di kursi tamu, tempat favoritku. Masih ingin duduk di teras rumah, ditiup angin sore. Sejuk dengan lambaian daun-daun langsat di halaman depan rumah. Dan jangan ditanya saat hujan. Tetes-tetes air hujan hingga derasnya turun melewati kisi-kisi atap rumah. Sedikit-sedikit percikannya mengenai kepala dan dahiku yang jatuh melalui atap yang bocor. Mengalir di pipi...hangat berbaur dengan airmata.
Pulang adalah ‘ditemukan’. Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Beda usia saya dan kakak-kakak adalah sekitar 9 dan 10 tahun. Ini membuat saya tidak begitu dikenal oleh keluarga besar dan kerabat. Ditambah lagi, selepas kuliah saya pindah ke kota lain. Jarang pulang. Saya ingin ditemukan kembali bukan hanya oleh kerabat dan keluarga besar. Tetapi juga oleh ‘ikatan’ yang sudah lama tercipta dengan antara saya dan ‘rumah’ secara fisik maupun suasananya. Walau penuh dengan bising suara kendaraan, ditambah deru mesin pembangkit listrik saat maintenance. Ataupun bunyi tiang pancang gedung-gedung bertingkat, serta buldozer di jalan raya.

Pulang bagi saya juga adalah ‘menemukan’. Pulang ke tempat kelahiran. Saya ingin menemukan kenangan. Menapaki kembali lorong menuju rumah Ibu. Menyusuri jembatan menuju kampung sebelah, tempat kawan-kawan masa kecilku bermain di lapangan kecil, dengan bola kecil. Di ujung jalannya ada rawa ditumbuhi eceng gondok yang saat berbunga, menjadi hamparan karpet ungu muda, warna yang membuat saya mengharu biru. Janji bertemu di dataran tinggi, berbukit-bukit tempat main lompat tali. Dan ketika lelah, saya dan kawan-kawan, Ari, Wanda, Neneng, Erna, dan Suri duduk di puncak bukit yang paling tinggi menatap Kampus Merah di kejauhan. Sepulangnya sudah Magrib, dan Ibu menunggu di pintu pagar. Tatapannya sudah membuat telingaku panas, siap dijewer. Tambah panas ketika tahu kedua kakakku mengintip cekikikan di balik jendela. Telinga panas. Begitupun pipiku... mengalir sesuatu yang hangat.
Bukankah kita semua harus pulang? Hanya saja, rindu yang saya miliki mungkin berbeda. Rindu yang tidak akan pernah tuntas. Rindu yang ingin menemukan dan ditemukan. Rindu yang hanya akan hadir bersama semesta cintaku...

#We_are_people
#With_names

Friday, April 27, 2018

Kisah Keset Kaki

Kisah Keset Kaki

Keset kaki, sepasang sendal dan sapu. Ketiganya punya banyak persamaan. Biasanya ketiga macam benda ini tergeletak di teras rumah. Kadang letaknya rapi. Kadang pula tdk teratur. Ketiganya punya fungsi yg berhubungan dengan kebersihan.

Sendal misalnya, selain melindungi kaki, ia juga menjaga kaki agar tetap bersih dan nyaman. Terhindar dari kotoran.

Sapu juga begitu. Dipakai untuk membersihkan lantai dari debu dan kotoran lainnya.

Terlebih keset kaki. Kaki kadang tidak yakin bahwa lantai yg telah disapu itu bersih. Sehingga kaki pun memakai sendal. Khawatir kena debu. Begitu sendal dibuka, kaki digosokkan ke keset untuk memastikan tdk ada kotoran yg melengket.

Itulah mengapa keset kadang sering diletakkan di depan pintu atau jalan keluar masuk ruangan. Bahkan sering pula diletakkan di sisi tempat tidur.

Betapa besar fungsi keset bagi kemaslahatan kaki. Walaupun diinjak, digosok-gosok, bahkan sampai semua kotoran kaki melekat padanya, ia tetaplah keset kaki. Diletakkan di depan pintu.

Namun terkadang, kaki tdk menyadari. Bahwa debu-debu yg dibawanya melekat pada keset. Membuat keset itu menjadi suram. Tidak cerah. Bahkan usang. Keset yg sdh kotor dan usang, bukannya dicuci dan dibersihkan, tapi dibuang diganti yang baru.

Keset tetaplah keset. Apapun kehendak kaki, ia akan tetap 'welcome' terhadap berbagai jenis kotoran yang menimpanya.

#tengkyuuu_welcome
#they_are_people
#with_names

Jam Terakhir Pukul Satu